Oleh Lisabona Rahman.
Ditulis setelah pameran Mata Perempuan yang pertama, 2003.
One is not born, but rather becomes, a woman.
(Orang tidak [begitu saja] lahir sebagai, akan tetapi menjadi, perempuan.)
– Simone de Beauvoir (1908-1986)
Simone remaja yang cerdas dan tengah senang-senangnya belajar, ditolak masuk Ecole Normale Supériure. Sekolah ini belum menerima murid perempuan. Ia cari jalan lain. Dipelajarinya matematika, sastra dan studi klasik. Pada 1929, ia lulus dengan gemilang ujian masuk universitas Sorbonne. Ia perempuan kesembilan yang berhasil masuk jurusan filsafat dan termuda di antara peserta ujian. Simone berada di urutan kedua mahasiswa yang memperoleh nilai tertinggi dalam ujian itu. Urutan pertama ditempati Jean-Paul Sartre.
Sartre kemudian menjadi mitra hidup Simone, keduanya dikenal sebagai figur kunci pemikiran filsafat eksistensialisme. Sebuah obrolan antara keduanya di tahun 1946 mendorong Simone menulis buku Le Deuxième Sexe (1949, The Second Sex), karya ilmiah filsafat feminis pertama yang diterbitkan di dunia. Kalimat pembuka tulisan ini adalah kutipan yang paling dikenal dari buku itu.
Mungkin kita melupakan (atau cenderung menganggap sepi) bahwa sebelum menghasilkan karya-karya feminis, Simone pun melalui tahap demi tahap proses ‘menjadi’ yang mengantarnya mengucap kalimat di atas.
Pembicaraan tentang karya perempuan hampir selalu dilanjutkan dengan pertanyaan tentang ciri. Predikat sosial ‘perempuan’ yang ditempelkan pada si pencipta menggandeng pula sejumlah harap pemirsa akan citra tertentu yang lekat dengan ‘perempuan’, diperlawankan dengan ‘laki-laki’. Pengelompokan perempuan dan laki-laki menghasilkan akibat yang khas karena berangkat dari perbedaan biologis. Pembedaan ini kemudian melahirkan tuntutan dan perlakuan berbeda terhadap perempuan dan laki-laki. Pada akhirnya masyarakat menciptakan aturan, jenis pendidikan, tata cara tertentu yang membuat perempuan dan laki-laki memiliki pengalaman yang berbeda (Margaret Mead, 1935),.
Pengalaman inilah yang menjadi pertanyaan, pernyataan dan kegelisahan dari Ayu Ismalia Nuraini, Maria Lasakajaya, Keke Tumbuan, Widya Sartika Amrin, Vitri Yuliany, Stefanny Imelda dan Maya Ibrahim. Mereka adalah para perupa foto berusia 20 sampai awal 30-an yang membuat karya-karya dengan tema perempuan. Beberapa menjadikan karya sebagai pilihan tugas akhir saat menempuh pendidikan fotografi atau mengawali karir fotografi. Foto mereka dikumpulkan dalam pameran Mata Perempuan (Galeri Oktagon, Jakarta, 13 Mei-30 Juni 2003), yang adalah pameran pertama para perupa foto perempuan dengan karya yang bertema perempuan. Kurator M. Firman Ichsan menangkap kecenderungan tema perempuan ini karena keterlibatannya dalam pendidikan fotografi. Mereka bertujuh bukan perupa foto perempuan pertama, sebelum mereka sudah ada nama-nama yang telah cukup kita kenal seperti Eny Nuraheni dan Desiree Harahap. Yang membedakan adalah tawaran gagasan yang mereka ajukan.
Fotografi Seni dan Perkembangan Pemikiran
Soal ekspresi dalam karya fotografi menjadi perdebatan yang hingga sekarang belum juga sudah. Perpaduan antara teknologi lensa yang ditemukan pada abad XIII dengan kamera yang menyusul ditemukan lima abad kemudian, membuat manusia merasa bahwa alat rekam imaji itu mampu merekam realitas lebih objektif dibanding dengan karya lukis. Akan tetapi kamera tetaplah sebuah alat yang dioperasikan manusia, penghadir yang berkuasa memilih apa yang dihadirkan sejak dalam komposisi subjek/objek terpotret. Di sini foto berhenti menjadi dokumentasi, walaupun yang dipotret bisa jadi benda-benda yang memang ada, tapi susunan dan cara menghadirkannya menjadi sebuah medium ekspresi. Barbara DeGenieve menyatakan bahwa citra fotografi mengandung pesan yang secara kumulatif membentuk gagasan, nilai dan sikap, pembawa mitologi budaya. Cara ekstrim menggunakan komposisi untuk mencapai efek dramatis dari karya foto, dengan mengeksplorasi berbagai kemungkinan teknis, digunakan oleh para seniman Dada melalui karya kolase/montasenya dilakukan Hannah Hoech. Di Indonesia, Firman Ichsan mencatat perkembangan fotografi seni yang dirintis oleh sederet nama seperti Dodo Karundeng, Nico Dharmajungen, Oscar Motulloh, Tara Sosrowardoyo, Erik Prasetya, Yudhi Soerjoatmodjo dan Ray Bachtiar.
Bagian lain yang menjadi perdebatan penting dalam karya foto adalah kehadiran teks untuk memberi konteks pada karya. Allan Sekula menganggap karya fotografi adalah cermin ideologis kreatornya atas realitas, suatu tindak sosiologis yang estetis dan Victor Burgin merasa teks penting untuk menghindari kesalahan cara pandang. Pemahaman pemirsa tentang citra yang ditampilkan pun tentu berbeda dengan maksud perupa menurut pengetahuan dan persepsi pemirsa.
Pada pameran Mata Perempuan, teks hadir sebagai upaya menghadirkan latar belakang pemikiran pembuatan karya melalui pernyataan perupa. Selama ini penjelasan tentang gagasan di belakang sebuah karya acap dibebankan di pundak kritikus atau kurator, menjadikan kita bertanya-tanya, apakah penjelasan yang ada merupakan intensi si seniman atau penafsiran kritikus atau kurator. Teks akan berfungsi pula sebagai dokumentasi perkembangan pemikiran seniman dan karyanya, yang sangat berharga sebagai acuan diskusi tentang keduanya. Teori seni dan sosial adalah dua elemen penting dalam membangun gagasan berkarya dan saling mempengaruhi perkembangannya masing-masing.
Karya-karya feminis yang berkembang di berbagai belahan dunia pun memiliki hubungan yang demikian dengan teori feminis. Perupa foto perempuan seperti Cindy Sherman dan Nan Goldin menyorot dan menantang stereotipi perempuan dan seksualitasnya dalam karya mereka, seperti pertanyaan yang diajukan dalam feminisme pascastruktural. Di Indonesia perkembangan pemikiran feminis masih terbentur pada sekat-sekat dunia akademik yang sulit ditembus, hingga usaha pengembangan pemikiran berkembang di luar dunia akademik dan pendidikan yang sangat tersebar dan seringkali tak terdokumentasikan. Sejak akhir 1970-an Pusat Studi Wanita didirikan di Universitas Indonesia dan menjadi salah satu tempat pengembangan penelitian mengenai perempuan. Pemikir perempuan Indonesia berhasil menulis karya ilmiah tentang jender di Indonesia dan sebagian juga terfasilitasi oleh pendidikan mereka di luar Indonesia atau, di mana mereka memperoleh infrastruktur dan dukungan yang dibutuhkan untuk merumuskan pemikirannya. Beberapa di antara mereka adalah Toeti Heraty, Julia Suryakusuma, Ratna Saptari, Gadis Arivia, Sita Aripurnami (ilmu sosial) dan Setianingsih Purnomo, Carla Bianpoen, Hildawati Soemantri (seni).
Ketika mempersiapkan tulisan pelengkap sebagai kurator tamu dalam pameran ini, saya coba bertanya kepada kawan-kawan perupa foto (kebanyakan laki-laki) tentang perupa foto perempuan. Kebanyakan menjawab dengan kernyit dahi. Kalaupun ada yang dengan langsung menyebut beberapa nama, itu dinyatakan dalam kalimat-kalimat menggantung ujungnya. Tak yakin. Sebab ketika mereka mendengar apa yang akan saya lakukan, mereka merasa perlu menimbang ulang apakah nama-nama yang disebut “mewakili” perempuan.
Saya tidak ingin membicarakan “keterwakilan” di sini. Bukan karena persoalan ini kurang penting, tapi karena bicara “keterwakilan” lantas tersangkut pula pada legitimasi. Tentu membicarakan karya seni individu sebagai bentuk sebuah perwakilan kelompok sosial yang dianggap monolitik menjadi contradictio in terminis. Perwakilan mensyaratkan kualitas universal yang berlaku merata dalam sebuah kelompok sosial, sebuah persyaratan yang langsung patah berhadapan dengan pengalaman unik yang menyusun tiap individu dan menentukan pemaknaannya atas dunia. Nilai kelompok dan nilai individu saling mempengaruhi tidak mungkin salah satu muncul mandiri tanpa pengaruh yang lain.
Perkembangan kaitan antara fotografi dan pemikiran di Indonesia tentulah tidak bisa diperbandingkan dengan perkembangan yang terjadi di belahan dunia lain. Walaupun demikian Karya para perupa foto dalam Mata Perempuan memberi kita gambaran tentang sebuah permulaan karya fotografi yang dilandasi gagasan perupa tentang perempuan yang mengantarnya melihat dan menghadirkan.
Mata Perempuan: Perempuan Melihat dan Menghadirkan Kembali
Dalam bagian ini karya-karya dalam pameran Mata Perempuan dibahas berdasarkan bentuk presentasinya, mengaitkannya dengan pernyataan perupa foto.
Imaji-imaji: Keke Tumbuan, Stefanny Imelda dan Maya Ibrahim
Ketiga perupa foto menggunakan imaji benda-benda nyata dalam satu bidang, bisa terdiri dari satu imaji atau gabungan dari beberapa sekaligus. Keke Tumbuan menggunakan media foto digital dan dicetak berwarna, Stefanny Imelda menggunakan media film dan dicetak hitam-putih dan warna, sementara Maya Ibrahim menggunakan media film dan cetak hitam-putih. Karya ketiganya dicetak di atas kertas foto.
Keke Tumbuan, tidak melupakan bahwa perempuan berjuang untuk mendapatkan pengakuan yang sama dengan laki-laki, tapi pengalaman perempuan dan laki-laki yang berbeda, tentulah menimbulkan cara pandang yang berbeda. Dalam kajian sastra dan seni, pengalaman memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan menjadi sumber inspirasi pencipta. Sebagai kelompok sosial, ada pengalaman kolektif yang dialami perempuan seperti yang dikemukakan oleh sarjana feminis Australia Dale Spender (1985),
… inti gagasan feminis adalah pandangan bahwa tak ada satu kebenaran mutlak, tak ada satu kekuasaan mutlak, tak ada metode objektif yang menuju pembentukan sebuah pengetahuan murni. Pandangan ini berlaku baik bagi pengetahuan feminis maupun pengetahuan patriarkal, tapi ada perbedaan yang signifikan diantara keduanya: pengetahuan feminis didasarkan pada premis bahwa pengalaman manusia adalah valid dan jangan sampai tidak disertakan dalam pemahaman kita, sementara pengetahuan patriarkal didasari suatu premis bahwa pengalaman separuh dari populasi manusia harus menjadi bahan pertimbangan dan hasil yang diperoleh darinya bisa diterapkan untuk separuh yang lain…Karya foto Keke merupakan satu bidang yang tersusun dari foto-foto digital menampilkan buku hariannya yang terbuka, alat uji kehamilan, toilet, bayangan tubuhnya di muka cermin dan tubuhnya sendiri (24.7). Karya kedua memperlihatkan daerah mulut laki-laki yang sedang tersenyum (Johny, Johny, Johny…). Keke memperlihatkan apa yang ia, sebagai perempuan, tangkap dan ingin hadirkan kembali. Baginya, apa yang dipilih untuk direkam dan dihadirkan kembali sebagai ekspresi menentukan perbedaan laki-laki dan perempuan. Ia menceritakan kegelisahan perempuan atas bentuk tubuhnya dan benda-benda konsumsi yang akrab dengan perempuan sehari-hari.
Buku harian adalah versi ekspresi personal yang banyak dipilih pencipta perempuan, mungkin karena menampung kisah yang diceritakan dengan caranya sendiri, tanpa perlu merisaukan tanggapan dan pembatasan masyarakat. Dengan membuka (sebagian) buku hariannya untuk publik dan menempatkan diri sebagai pengamat sekaligus yang diamati, Keke mengaburkan batas antara subjek dan objek. Karyanya tidak sedang menggugat sebuah stereotipi yang diterapkan atas perempuan, tapi memperlihatkan perempuan yang begitu percaya diri dengan dunianya dan ingin menceritakan fragmen-fragmen apa yang menyusun dunianya. Dalam Johny, Johny, Johny… ia menempatkan diri sebagai pengamat dan memilih senyum, yang menurutnya adalah hal yang pertama kali ia lihat dari laki-laki. Keke, si perempuan, berusaha mengambil kesimpulan awal dari sebagian: senyum.
Karya Stefanny Imelda dan Maya Ibrahim, keduanya menggunakan komposisi imaji sebagai metafora pernyataan. Maya menggunakan bunga mawar sebagai metafora perempuan yang ditempatkannya di tengah arus atau di atas sekian anak tangga dengan mahkota bunga yang tercecer. Perubahan yang dialami bunga yang diterpa arus adalah tahap menemui kebinasaan, pada akhirnya bunga itu nyaris niscaya buyar digiling jeram. Kalaupun bunga melayu dan kelopaknya lepas satu demi satu, ia tetaplah sesuatu yang tegar. Baginya bunga mawar membawa pesan cinta kasih, feminisme dan humanisme.
Sementara Stefanny menyusun komposisi foto janin dalam tabung yang diapit foto urinoir, mempertemukan perempuan dan laki-laki dalam wilayah yang purba, tapi belum juga selesai dipersoalkan. Pertemuan itu bisa mengajukan gugatan pertanggungjawaban pengguna urinoir atas penciptaan janin yang secara alamiah cuma bisa dititipkan di rahim perempuan. Atau sebuah tawaran berbagi tanggung jawab dan kebijakan, mengingatkan kemungkinan lain yang mungkin diabaikan. Di sini Stefanny memiliki asumsi yang masih kokoh dalam masyarakat kita bahwa janin adalah hasil dari sebuah hubungan laki-laki dan perempuan. Ia juga menyiratkan sebuah tatanan, bahwa anak harus berasal dari sepasang orang tua. Ia mencerminkan dalam masyarakat kita belum perempuan belum diberi otonomi untuk memutuskan akan melahirkan atau tidak melahirkan si janin. Juga belum mempertimbangkan sesuatu yang sejak lama diperjuangkan feminis radikal, teknologi bayi tabung dari bank sperma (in vitro fertilization) yang memungkinkan bayi yang dilahirkan tanpa adanya hubungan pribadi antara pemilik sel telur dan sperma. Sesuatu yang tentulah sangat kontroversial bagi masyarakat kita.
Potret para Perempuan: Ayu Ismalia
Karya-karya Ayu Ismalia merupakan serial potret yang seluruhnya vertikal menggunakan media film dan cetak hitam-putih di atas kertas foto.
Ayu Ismalia mengambil posisi sepenuhnya sebagai pengamat dan penghadir. Dipotretnya para perempuan yang menjadi simbol, yang diakui dan dikenal karena pencapaiannya dalam bidang masing-masing (SK Trimurti, Sulami, Bu Kasur, Pia Alisjahbana, Julia Suryakusuma, Lisa Rumbewas). Campur tangan si subjek terpotret berhenti sampai pose, inipun tentunya dengan permintaan perupa foto. Subjek terpotret tidak punya kuasa untuk menentukan apa yang ditangkap kamera.
Subjek dalam karya Ayu tidak ada yang melihat ke arah kamera. Mereka memang sedang dihadirkan kembali oleh si perupa dengan sudut pandang dan detil yang dipilih oleh si perupa. Potret-potret ini hampir semua bersih dari penanda zaman (fesyen, perabotan) atau benda-benda yang membuat kita mengaitkannya dengan sebuah periode. Sebuah paradoks yang menarik karena jika dilihat sebagai sebuah kesatuan, potret-potret ini menunjukkan pendekatan sejarah yang kuat.
Ayu “mengabadikan” sosok perempuan pejuangnya dalam potret yang seolah-olah membekukan waktu. Penggambarannya mengenai para perempuan ini memberi citra yang lain dengan yang selama ini dihadirkan dalam media massa. Sosok Dita Indah Sari misalnya, menjadi sangat kontemplatif, kontras dengan penggambarannya sebagai aktivis gerakan buruh yang selama ini mengisi media massa. Pilihan judul potret yang menggunakan nama kecil para perempuan yang dipotret merupakan pilihan yang menarik karena membuat tokoh-tokoh yang terasa begitu berjaramenjadi lebih personal. Sejenak kita berhenti melihat mereka sebagai sosok publik (walaupuinn mereka dipotret karena aktivitas publiknya), karena hampir semua subjek diisolir dari detil imaji lain yang membuat kita mengasosiasikan mereka dengan kegiatan publiknya.
Pada rangkaian potret ini pilihan media hitam-putih bisa dilihat sebagai suatu kehilangan, bukankah warna-warni bisa menunjukkan betapa beragam dan rumitnya (kelas, suku bangsa, pemikiran, problem) kumpulan yang disebut perempuan? Tapi di sisi lain, hitam-putihnya juga bisa dimaknai sebagai sebuah upaya menarik benang merah persamaan, karena walau bagaimanapun mereka sama-sama perempuan yang memperjuangkan sesuatu.
Tentang Realitas: Maria Lasakajaya dan Widya Sartika Amrin
Maria Lasakajaya dan Widya Sartika Amrin memilih untuk menubuhkan perempuan dengan bantuan model. Bedanya, Maria menampilkan figur sementara Widya lebih memilih bayang-bayang tubuh untuk mewakili perempuan. Widya menolak menggunakan tubuh perempuan sebagai gambaran posisi perempuan (Shadow 1,2,3, Shadow & Shadow). Dia melihat perempuan sebagai bayang-bayang yang tinggal di balik layar dan dikendalikan seperti wayang. Perempuannya berdiri dalam pose, tapi senantiasa tanpa wajah, tubuh-tubuh yang semu. Satu saat cahaya yang menyorotnya hilang di layar tak ada lagi bayang-bayang. Sosok-sosok yang rentan terhadap perampasan dan mungkin belum menyadari ancaman itu. Dalam mempersoalkan, Widya memilih untuk menghadirkan realitas yang menurutnya terjadi sekarang pada perempuan.
Ia juga mempersoalkan bagaimana perempuan digambarkan di etalase, dalam grafiti, baginya semua menggambarkan perempuan sebagai objek yang pasrah dan menerima pelecehan yang berlangsung begitu lama (Invitation).
Lain halnya dengan Maria yang memilih menghadirkan potret perempuan hitam-putih atau toning. Ia mencoba mengungkapkan kegelisahan terpendam para perempuannya yang moderen dan seperti terbebaskan lewat kontras pencahayaan dan beberapa gestur seperti menutup mata atau berada dalam posisi terduduk. Perempuan-perempuan Maria yang ekspresif bisa digeser hampir keluar bingkai, terdesak oleh persoalan yang berada di luar dan menekan dirinya (Venusian, Venusian Live in Mars, Mars Domination). Bagi Maria kemandirian perempuan dalam dunia maskulin tetap mengandung paradoks dalam dirinya sendiri, persoalan nyata seperti dilema kerja bagi perempuan yang berumahtangga belum juga selesai dalam masyarakat kita karena belum ada infrastruktur yang menunjang kemandirian perempuan.
Vitri Yuliany (Make Me Over) memilih menggali fenomena kehadiran berdasarkan kesadaran menjadi subjek yang ‘ditonton’. Kesadaran ini membuat berhias menjadi sebuah keharusan, sebab penampilan visual makin lama makin penting. Meski kecenderungan berhias tak cuma ada di kalangan perempuan, tapi kelompok inilah yang paling gencar disasar industri kosmetik, fashion, dan perhiasan. Industri berhasil membentuk tuntutan sosial terhadap perempuan, pada akhirnya juga laki-laki, supaya tampil menarik dan ‘terhias’. Sering proses berhias ini tidak nyaman (atau cenderung menyakitkan) dan makan waktu. Pribadi yang dihasilkan setelah berhias merupakan pribadi virtual yang khusus diciptakan untuk ditampilkan ke hadapan publik.
Persoalan dengan menggunakan karya dengan model adalah identitas si model sendiri. Dalam karya Cindy Sherman Untitled Still Photos, ia menggunakan dirinya sendiri sebagai model dalam still photo adegan-adegan film rekaan yang memvisualkan stereotipi perempuan dalam film-film Amerika. Kehadiran perupa foto sendiri sebagai model membuat karya tersebut menjadi lebih identik dengan subjek penciptanya, dan membuat pendirian subjek mengenai permasalahan yang diangkatnya menjadi lebih jelas terlihat. Karya Maria dan Widya yang menggunakan model menimbulkan jarak antara perupa dan pernyataan yang diajukan melalui karyanya.
Karya, Sejarah dan Pemikiran: Rangkaian Mata Rantai
Perempuan itu lebih cocok dilukis daripada sebagai pelukis.
Basoeki Abdullah, pelukis, (1915-1993)
Dari segi jumlah, karya seni yang menggambarkan perempuan begitu banyak. Para seniman yang menjadi kanon dunia maupun Indonesia, baik visual maupun tulisan, menempatkan perempuan sebagai tokoh penting dalam karya mereka. Gambaran mengenai perempuan, sebagian besar diciptakan oleh laki-laki yang menempatkan diri sebagai pelihat dan penghadir. Si pelihat dan penghadir memegang kuasa untuk memaknai dan memilih bagaimana menghadirkan kembali apa yang ia lihat. Perempuan di sini berada dalam posisi yang lebih pasif, banyak digambarkan tapi tak punya banyak kesempatan untuk menggambarkan.
Ketika perempuan masuk ke dalam dunia intelektual dan seni, hal pertama yang dilakukan adalah berusaha menyamai patokan umum yang berlaku dalam tiap bidangnya, yang lagi-lagi telah terumuskan. Wacana yang mereka sendiri berada tenggelam di bawah kendali wacana yang dominan ada. Wacana ini ditekan oleh wacana “kesamaan”. Subjek mempertahankan hanya di bawah paksaan tirani kesamaan: seseorang punya hak untuk menyatakan dia sama seperti orang-orang lain yang menjadi panutan, dan menyatakan diri berbeda sama saja dengan melempar diri keluar lingkaran. Menjadi ‘setara’ berarti menjadi sama; menjadi berbeda berarti lebih rendah.
Pada tahun 1971 Linda Nochlin, seniman dan sarjana feminis Amerika Serikat (AS) menulis “Why Have There Been No Great Women Artists?”. Alih-alih menuduhkan apa yang tertera dalam pertanyaannya, bahwa tak ada seniman perempuan yang besar, Nochlin sebetulnya sedang mempertanyakan fondasi sejarah seni yang menghambat seniman perempuan untuk tampil dan karenanya tidak tampak dalam jajaran ‘seniman besar’. Para kritikus senirupa Indonesia seperti Jim Supangkat, Joedawinata, Dwi Marianto dan Tommy F. Awuy menyadari dan ingin mengubah bias dunia senirupa Indonesia yang berorientasi pada seniman laki-laki, seperti yang disiratkan oleh pernyataan Basoeki Abdullah di atas. Gagasan yang sama muncul dari M. Firman Ichsan. Sekian karya perupa foto perempuan muncul dalam media massa maupun pameran fotografi. Jumlah mereka memang lebih sedikit dibandingkan perupa foto laki-laki, akan tetapi mengapa mereka seperti tak kelihatan? Apakah mereka tidak memiliki kegelisahan mengenai posisi mereka seperti yang sudah dinyatakan oleh para pencipta perempuan dalam seni rupa dan sastra?
Dalam dunia tulis menulis beberapa penulis perempuan seperti Oka Rusmini, Ayu Utami, Dorothea Rosa Herliany dan Djenar Maesa Ayu menjadi pembicaraan hangat. Karya-karya mereka diedarkan, dibaca, dipuji atau dicerca. Pembaca mulai menangkap perbedaan sudut pandang laki-laki dan perempuan karena teks mereka yang mulai mempersoalkan seksualitas dan penindasan perempuan. Tulisan mereka dilihat dengan cara yang lain dengan yang digunakan untuk melihat karya-karya Pramoedya Ananta Toer, meskipun ia banyak menampilkan tokoh perempuan yang mempersoalkan penindasan. Pendeknya mulai ada pengakuan bahwa karya mereka berbeda dari yang sudah ada dan dilihat sebagai karya perempuan. Film Nan T. Achnas, Pasir Berbisik, juga dibicarakan sebagai karya dengan misi feminis. Dalam senirupa, juga bermunculan nama-nama seperti Dolorosa Sinaga, Arahmaiani, I GAK Murniasih atau Sekar Jatiningrum.
Sedikit catatan, istilah ‘feminis’ sendiri juga mengandung permasalahan tersendiri karena banyak perempuan yang tidak merasa nyaman mengenakan label ini. Feminisme berhubungan erat dengan gerakan perempuan yang dilihat sebagai sebuah ancaman terhadap maskulinitas yang telah diterima sebagai kebenaran tunggal dan universal. Ketika mengemukakan pikirannya, sarjana dan seniman feminis dicurigai mengidap kompleks inferioritas dan anti laki-laki. Rumusan istilah feminis yang berasal dari budaya yang didominasi kulit putih dan kelas yang dominan membuat istilah yang sebenarnya mengandung pengertian pembebasan perempuan ini diperlakukan sebagai sesuatu yang asing oleh perempuan sendiri. bell hooks (1984) pernah menyatakan bahwa ‘perempuan kulit hitam tak tahu bagaimana harus menggunakan istilah itu’, walaupun ia sendiri menggunakan istilah feminis dalam tulisannya.
Kritikus feminis dalam sastra dan seni telah memperlihatkan bahwa gambaran perempuan yang diciptakan oleh laki-laki seringkali tidak tepat. Perempuan mencari jalan kehadirannya di dunia, karena ia juga telah merangkai kata-kata dan imaji. Perempuan bekerja di tengah kekuatan dunia maskulin yang persuasif (Adrienne Rich, 1979). Para pencipta perempuan seolah mencipta dalam ‘bahasa’ (tekstual maupun visual) yang asing, yang tidak mampu mengekspresikan pemikiran mereka. Karenanya perempuan merasakan kebutuhan untuk melihat peran mereka dan menghadirkan subjektivitas perempuan dari sudut pandang perempuan.
Sejak awal 2003 hingga sekarang beberapa kegiatan kesenian budaya dengan oleh pencipta perempuan yang mengangkat tema dan pemikiran perempuan telah diadakan meneruskan apa yang sudah ada sebelumnya (Festival Ungu, Girl Talk, Seduction). Mata Perempuan adalah satu di antaranya, satu usaha para perupa foto perempuan untuk mengaitkan pemikiran perempuan dan praktik seni, yang semoga menjadi matarantai yang bersambung dengan percobaan-percobaan berikutnya. Sebab menjadi perempuan adalah identitas difenisikan, seperti ucapan Simone de Beauvoir, yang berarti selalu bisa digali dan dirumuskan kembali, oleh perempuan.
*Lihat juga review pameran oleh Yudhi Soerjoatmodjo atau pengantar kurator Mata Perempuan kedua, Erik Prasetya
Perempuan… Sadar Dong, Widya Sartika Amrin
24-7 Girls, Keke Tumbuan
Positvenegative-negativepositive, Keke Tumbuan
The Jonis, Keke Tumbuan
Untitled 1, Keke Tumbuan
Untitled 2, Keke Tumbuan
Mawar/Rose, Maya Sofia
A Choice, Ruth Hesti Utami





















